Rabu, 31 Juli 2013

Kamu, Aku dan mereka

Kamu..
Ada dalam nyata dan khayal..
Menyemangati disaat rapuh..
Membimbing disaat tak tau arah..
Mengerti apa yang tidak terucapkan..
Merangkul disaat terpuruk..
Tersenyum disaat marah..
Menenangkan disaat gundah..

Aku..
Berharap dalam asa..
Mencintai dalam diam..
Merindu dalam hening..
Menanti dalam sabar…

Mereka..
Hadir dengan warna..
Menyayangi dengan ikhlas..
Berteman dalam canda..

Bersahabat saat duka..

Surat kecil untuk SAHABAT


Dear lovely friends,

Apa kabar kalian semua? Sudah lama rasanya tidak bertegur sapa. Masih ingatkah kalian padaku? Sudah lebih dari setahun ya kita tidak pernah bertemu. Mungkin aku yang terlalu lama berhibernasi. Ya, Aku butuh waktu untuk memperbaiki keadaan, butuh waktu untuk menghidupkan hidupku lagi. Butuh waktu beradaptasi dan belajar ikhlas. Bukankah sebuah proses yang baik itu tidak pernah instan? 

Aku mau minta maaf untuk semua pengabaian, bukan berniat menjauh atau sombong, aku hanya ingin berdamai dengan diriku, mengumpulkan semua rasa percaya diri yang pernah kumiliki. Merindukan kalian selalu jadi ritualku, mengingat semua kegilaan yang pernah kita lakukan. Mengingat saat kalian menenangkanku. Mengingat becandaan kita yang kadang tidak bisa dimengerti orang lain bahkan kadang aku juga tidak mengerti apa yang kita bicarakan tapi kita bahagia saat itu. Kita tersenyum. 

Kalian masih ingat setiap momen yang pernah kita jalani? Aku selalu ingat saat-saat itu. Sedih memang saat kita kehilangan momen berharga saat kita hampir berpisah. Kita yang tiba-tiba kehilangan rasa saling percaya. Tapi bukankah hidup memang tidak selalu mulus? bukannya kerikil akan makin menguatkan kita? Itu hal yang biasa dalam sebuah persahabatan. Kita hanya sedang krisis kepercayaan diri..^_^

Gabe sama inang kapan wisuda? Nda siap loh jadi seksi sibuk saat kalian wisuda..Jadi fotografernya juga boleh. Free dan excellent service..hehe.. Opi masih ndut kah? enggak deh kayaknya. Makin cantik iya.. Bener ga ndut kalo mama kota lebih kejam dari mama tiri? ^_^ Salam sama guardian angel mu yang baru ya ndut. Langgeng. jangan nikah dulu kan udah ada urutannya. Nda yang pertama. Ingatkan? Senjaaa.. Masihkah kamu seteduh senja? masihkah kamu menjadi bagian yang paling bisa mengerti? Dan kamu masih jadi bagian yang paling aku rindukan. Kalau kamu baca twitter aku, akan banyak Senja yang muncul. Yup, aku selalu mengagumimu seperti aku mengagumi senja dengan jingganya.
 
Uteeeeee... Masih galak ga? Kalo nanti nda nginep disana bakal diusir jam 12 malam ga? Masih malas makan kah? Ga boleh ya, sayang sama badan. Nda udah 45 looh beratnya (pamer). ^_^ Kapan ya bisa denger ute marah-marah lagi? heran ya, padahal lagi marah tapi kita yang dengernya malah ketawa. hihihihi. Abaaaang ichuun. Selamat buat sarjananya. Tetap jadi abang yang mengagumkan ya bang. Tetap jadi abang yang kece, abang yang sayang sama adek-adeknya. Abang yang tanpa ngomong apa-apa tapi kami tau kami aman saat ada kamu. :) 

Abang aleeex.. Kamu dimana? aku kehilangan jejakmu bang. Masih suka main bola bang? Kapan nikah? *ups* Masih keren dong ya? Udah makin bijak dong ya bang. kangen denger ketawa mu bang..^_^ Kujeeeeek my boooyyyy.. Selamat jadi ayah ya jek.. apa kabar si kecil sama bundanya? Aku ke bandung dalam tahun depan insyaAllah jek. Makin sukses ya. Kapan nyanyi bareng-bareng lagi? Suaranya masih kece kan? ^_^ Ayuk ah ngejam lagi..
Hampir dua tahun yang lalu kalian antar nda pulang ke Bukittinggi, Hujan-hujan dorong mobil, ban bocor dan berakhir dengan nginep tempat bang ichun. Nanti kita jalan-jalan lagi ya. Rindu kalian. Sangat Rindu.^_^

lots of love


Winda..^_^


Minggu, 28 Juli 2013

Memories

Aku kembali menyeruput teh hijau favoritku. Hujan masih menahanku disini, dipojokan ini. Aku bahagia berada disini, saat bisa dengan leluasa menatap keluar. Kendaraan yang lalu lalang, anak-anak kecil yang sedang bersepeda di taman di seberang sana yang tidak peduli dengan rintik hujan yang semakin deras. Mereka malah semakin tersenyum lebar menikmati setiap tetes air yang menyentuh kulit.
Tiba-tiba dadaku bergemuruh kencang. Ada rindu dalam setiap tetesan hujan. Ada kata yang tidak terucap dalam setiap bulir yang jatuh. Ada do'a yang kutitipkan setiap melihat awan hitam menghempaskan airnya ke bumi.

Lelaki hujan, apa kabarmu disana?
                      * * * * *

*Tiga bulan yang lalu *

"Kamu harus coba mandi hujan rainda, kamu akan merasakan sensasi luar biasa. Percuma punya nama rain tapi takut sama hujan." Dia terkekeh mengejekku yang selalu menolak saat diajak mengikuti ritualnya yang satu itu.

"Aku udah besar bukan anak-anak kayak kamu lagi. Malu ah sama umur." jawabku sekenanya.

Aku menyodorkan lemon tea hangat yang sudah kusiapkan untuknya. Dia sedang menyeka rambut cepaknya dengan handuk. Dia juga sudah berganti pakaian. Dia terlihat lebih tampan sore ini.

"Kamu kapan berangkat rain? Baik-baik ya disana. Jangan cengeng." ucapannya membuyarkan lamunanku.

"Minggu depan sam. Iya, aku ga cengeng. Pray for me." jawabku.

Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku sebenarnya tidak ingin membicarakan hal ini. I hate to leave.  Meskipun aku yakin tidak akan pernah sedetikpun bayangannya hilang dari kepalaku tetapi aku masih ingin ada disini bersamanya. Menatap matanya yang berbinar ketika bercerita tentang band indie favoritnya, atau melihat dia tertawa puas saat dia dengan sukses membuatku jengkel. Ah, aku akan merindukan saat-saat itu.

"Sam, kamu bakal telfon aku sering-sering kan?" tanyaku. 

Dia mengangguk sembari meminum lemon tea-nya. Dia terlihat sama tidak bersemangatnya denganku.

                  * * * *

Hujan sudah mulai reda. Aku terkesiap mendengar petir barusan. Ah,  kenapa petir selalu muncul saat hujan sudah mereda? Aku membereskan barang-barangku. Saatnya kembali ke asrama.

Aku meninggalkan beberapa uang kertas dan beranjak dari tempat duduk sembari melambai dan tersenyum kepada pelayan cafe yang sudah sangat mengenalku. Mereka membalas senyumanku dengan melambaikan tangan. Mereka mungkin sudah bosan melihatku setiap hari datang kesini, duduk dipojokkan yang sama serta memesan minuman yang sama setiap harinya.

Di depan cafe aku menengadah ke langit. Ku lihat ada bias cahaya warna warni disana. Cantik sekali. Matahari mulai terlihat bergeser ke barat. Senja sebentar lagi akan menyapa dengan jingganya. Burung- burung mulai berarak pulang. Aku menutup mata sejenak. Sisa hujan menyentuh lembut pipiku. Aku merasakan damai yang luar biasa. Rinduku sedikit terobati.

Aku mengambil telfon genggamku. Aku mulai mengetik pesan singkat untuk seseorang disana.

To : lelaki hujan
Hey kamu, aku baru saja bermain dengan kenanganmu. Rintik hujan dan dingin. Aku merasa kamu semakin hidup dalam jiwaku. Percayakah kamu jika aku mengatakan tidak sedikitpun aku merindukanmu disini? Kita hanya perlu bersabar untuk beberapa bulan lagi.. ^_^

Send.

Aku berjalan gontai menuju asrama. Dadaku tak lagi sesak oleh rindu yang membuncah. Aku yakin dia akan menungguku pulang. Gadis hujannya yang tidak pernah suka hujan.

Handphoneku bergetar, ada pesan baru masuk. Dengan cepat kubuka pesan itu.

From: Lelaki hujan
Hai gadis hujanku. Bisakah aku tidak percaya pada apa yang aku sendiri rasakan? Cepat pulang!
                * * * * *

Rabu, 24 April 2013

Elegi persahabatan


Apakah ada akhir dari sebuah persahabatan? Yang aku tahu cuma ada pasang surut dalam persahabatan. Ada kalanya kita akan merasa sangat dekat dan tak jarang masalah yang kecil bisa menjauhkan kita.

Kadang selalu muncul pertanyaan dibenakku, apakah orang yang dekat denganku sekarang sudah bisa kusebut sahabat? Atau apa sahabat itu benar- benar ada? Jangan-jangan yang namanya sahabat itu cuma ada di imajinasi setiap orang. 

Kalo menurutku sahabat itu bukan orang yang selalu sama-sama bareng aku dan selalu ikut aku kemana-mana. Sahabat itu yang mengerti tanpa diminta, yang ada walau tak terlihat, yang selalu mendukung dengan caranya sendiri. Ga harus bareng-bareng terus kok, saling mendoakan pun sudah lebih dari cukup. Daripada ada didekat ku tapi sibuk sama urusannya sendiri.

Aku pernah memiliki sosok yang seperti kubayangkan tadi. Mengerti dan mendukung dengan caranya sendiri. Aku benar-benar merasakan memiliki seseorang yang membuatku lebih baik. Menyayangi dengan caranya sendiri. Setiap hari ada saja yang ku perdebatkan dengannya, walaupun sebenarnya kita saling menerima pendapat keduanya tapi bukankah debat kecil itu bumbu dari persahabatan? Hehe..

Kita saling mendukung impian masing-masing. Aku tak pernah memaksa dia masuk ke duniaku dan dia pun tak pernah, tapi jujur kita saling mengagumi dunia keduanya.
Aku selalu bahagia mengingat hari-hari yang pernah kami lewati. Tapi sekarang semua sudah berubah, satu rasa saja bisa menghancurkan semuanya. Tak ada debat-debat kecil itu lagi, tak ada becandaan itu lagi. Kami menjauh, dia ingin menjaga hatinya. Aku pun tak ingin menyakitinya. Sedih rasanya kehilangan sosok terbaik saat ini tapi aku ikhlas. Aku yakin suatu saat nanti kita akan kembali saling bercerita dan berdebat. Dia hanya butuh waktu berdamai dengan hatinya. Dia cuma perlu tahu bagiku dia tetap sahabat dan kakak terbaik. Aku selalu mendoakannya dan mendukung semua yang dilakukannya. Aku hanya ingin titip rindu buat dia.:))